Partai-partai sosialis dan nasionalis

Partai-partai sosialis dan nasionalis

Partai-partai sosialis dan nasionalis

Ikhwanul Muslimin alamiyyin berkoalisi dengan partai-partai sosialis dan nasionalis. Perpecahan di kalangan salafiyyin semakin melebar, sehingga berkembang di kalangan mereka dan masyarakat, istilah salafiyah ilmiah dan salafiyah harakiyah. Pemahaman salaf yang sangat mengutamakan ilmu dan ahlul ilmi dicap sebagai salafiyah ilmiah. Sedangkan kelompok yang berpehaman dengan akidah salaf dan dakwahnya adalah pergerakan politik dinamakan salafiyah harakiyah. Demikianlah kenyataannya, dakwah salafiyah yang telah mencapai masa keemasan dan kegemilangannya diporak porandakan oleh para politikus yang berbaju salaf. Sampai di tingkat ini saja, musuh-musuh Islam telah berhasil membendung keberhasilan dakwah salafiyah melalui para agitator politik dari kalangan salafiyyin atau dengan ungkapan yang lebih tepat: Mereka adalah orang-orang yang menyusup ke dalam barisan salafiyin.
Situasi terus berlangsung, musuh Islam tidak merasa puas dengan limit keberhasilan yang telah mereka capai. Pada tahun 1412 H / 1991 M, pemilu diadakan di Aljazair yang berakhir dengan kemenangan FIS secara mutlak pada urutan pertama, sehingga presiden Jedid akhirnya dipaksa mengundurkan diri. Ketika ia mundur dari jabatannya, pihak militer mengumumkan keadaan darurat, sehingga pemilu dibatalkan dengan alasan terjadi kecurangan. Partai-partai politik diberangus dengan Undang-undang keadaan darurat.

Muhammad Bodiaf, tokoh sosialis, yang sedang berada di tempat pengasingannya di Maroko, dipulangkan ke Aljazair untuk diangkat sebagai Presiden Aljazair. Dua ratus orang aktifis FIS ditangkap dan bersamaan dengan itu muncullah sayap militer FIS yang didominasi oleh pemikiran Khawarij atau istilah lain ialah kaum reaksioner. Pembunuhan kaum muslimin yang terlibat dalam FIS dilakukan oleh pemerintah militer. Sedangkan pembunuhan terhadap kaum muslimin yang terlibat dengan pemerintah dilakukan oleh sayap militer FIS. Ali Balhaj dan Abbas Madani pada akhirnya tertangkap dan kembali meringkuk di penjara, karena mereka sudah tidak dibutuhkan lagi dalam upaya musuh Islam menghancurkan dakwah salafiyah. Sekarang Balhaj sudah menjadikan penjara sebagai tonggak prestasinya. Di dalam penjara, Ia membagi ulama dengan istilah ulama sujun (ulama penjara) dan ulama suhun (ulama piring nasi). Hal ini merupakan caranya menyindir ulama ahlus sunnah yang tidak menyetujui dakwah agitasi politik.
Pertumpahan darah terus berlangsung, korban jiwa mencapai ratusan bahkan ribuan, itu tidak termasuk korban luka-luka. Rakyat dicekam ketakutan dan kengerian, hingga tumbuhlah dengan subur di kalangan rakyat jelata semangat Islam Phoby (ketakutan dalam Islam). Akhirnya mayoritas rakyat takut diajari ilmu tentang Islam. Akibatnya dakwah salafiyah hampir mandek total. Dakwah agitasi politik berakhir dengan ratap tangis para janda dan yatim rakyat jelata. Dakwah tersebut meninggalkan noda di bumi Aljazair dalam bentuk air mata dan darah kaum mustadl’afin (kaum tertindas). Noda yang lebih para dari itu ialah ketakutan rakyat jelata dari dakwah Islamiyah umumnya dan dakwah salafiyah khususnya.
Kaum sufiyah yang semula tersisih di desa-desa dan tak berdaya menghadapi dakwah salafiyah, akhirnya diangkat oleh pemerintah sebagai imam-imam di masjid-masjid kota dan desa. Kubur-kubur yang dikeramatkan dan dahulu telah dihancurkan oleh du’at salafiyin, kini dibangun kembali. Dakwah salafiyah di Aljazair menurun sampai ke titik nol. Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un.

Sumber : https://abovethefraymag.com/

About the author