Jumlah Penduduk Buta Aksara Merosot

Jumlah Penduduk Buta Aksara Merosot

Jumlah Penduduk Buta Aksara Merosot

Jumlah penduduk buta aksara berkurang 110.000 orang dalam setahun. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional BPS 2018

, jumlah penduduk buta aksara turun dari 3,4 juta menjadi 3,29 juta orang. Secara nasional, total penduduk buta aksara hingga tahun ini sekitar 1,93 persen dari total populasi penduduk.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Harris Iskandar mengatakan, penuntasan buta aksara menjadi program prioritas. Pada awal kemerdekaan 1945 jumlah penduduk buta aksara mencapai 97 persen. “Sekarang kurang dari 2 persen,” kata Harris dalam jumpa pers Persiapan Peringatan Hari Aksara Internasional ke-54, di Kantor Kemendikbud.

Ia menuturkan, jumlah ini terus turun seiring upaya Kemendikbud dalam menjalankan beragam program

dan kegiatan untuk menuntaskan buta aksara. Antara lain memperkuat program pendidikan keaksaraan dengan budaya, keterampilan, dan bahasa.

”Kami melaksanakan program keaksaraan dalam dua tingkatan. Yaitu keaksaraan dasar bagi warga yang masih buta aksara, dan keaksaraan lanjutan bagi yang telah menyelesaikan program keaksaraan dasar,” ujarnya.

Kemendikbud melakukan pemberantasan buta aksara dengan sistem blok atau klaster. Yaitu memusatkan

program di daerah-daerah padat buta aksara seperti Papua (22.88 persen), Sulawesi Selatan (4,63 persen), Sulawesi Barat (4,64 persen), Nusa Tenggara Barat (7,51 persen), Nusa Tenggara Timur (5,24 persen), dan Kalimantan Barat (4,21 persen).

Kemendikbud juga melaksanakan program pasca buta aksara. Program tersebut di antaranya pendidikan keaksaraan usaha mandiri (KUM) dan pendidikan multikeaksaraan. KUM berorientasi pada pemeliharaan keberaksaraan dengan fokus keterampilan usaha mandiri.

Sedangkan multikeaksaraan berorientasi pada pemerliharaan keberaksaraan dengan fokus pada lima tema pemberdayaan masyarakat, yakni profesi/pekerjaan, pengembangan seni budaya, sosial politik dan kebangsaan, kesehatan dan olahraga, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Keberhasilan pemerintah Indonesia dalam memberantas buta aksara memperoleh penghargaan dari UNESCO pada 2012, yakni King Sejong Literacy Prize. Selain itu, sejak akhir 2018, pemerintah Indonesia dipilih sebagai Komite Pengarah Aliansi Global Literasi (Global Alliance for Literacy) UNESCO atas keberhasilan Indonesia memberantas buta aksara

 

Baca Juga :

About the author