Hukumnya wajib ain (fardhu ‘ain) dan bukan syarat

Hukumnya wajib ain (fardhu ‘ain) dan bukan syarat

Hukumnya wajib ain (fardhu ‘ain) dan bukan syarat

Ini pendapat Ibnu Mas’ud, Abu Musa Al-Asy’ariy, Atha’ bin Abi Rabbaah, Al-Auzaa’iy, Abu Tsaur, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibaan, kebanyakan ulama Hanafiyah dan madzhab Hanbali. Dalil mereka:

Firman Allâh Ta’âlâ

وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِنْ وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ وَدَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُمْ مَيْلَةً وَاحِدَةً وَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ كَانَ بِكُمْ أَذًى مِنْ مَطَرٍ أَوْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَنْ تَضَعُوا أَسْلِحَتَكُمْ وَخُذُوا حِذْرَكُمْ إِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا

Artinya: “Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan seraka’at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh), dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bershalat, lalu bershalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena karena kamu memang sakit; dan siap siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu. [QS. An Nisaa’ : 102]

Dalam ayat ini terdapat dalil yang tegas akan kewajiban shalat berjamaah. Shalat jamaah tidak boleh ditinggalkan kecuali dengan udzur seperti ketakutan atau sakit.

Firman Allâh Ta’âlâ:

وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

Artinya: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.“ [QS. Al-Baqarah : 43]

Ini adalah perintah, kata perintah menunjukkan kewajibannya.

Firman Allâh Ta’âlâ:

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالأبْصَارُ

“Bertasbih kepada Allâh di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayarkan zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.“ [QS. Annur : 36-37]

Firman Allâh Ta’âlâ:

قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ

Artinya: Katakanlah, ”Rabbku menyuruh menjalankan keadilan.” Dan (katakanlah), ”Luruskan muka (diri)mu di setiap shalat, dan sembahlah Allâh dengan mengikhlaskan keta’atanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan kembali kepadaNya.” [QS. Al-A’raf : 29]

Kedua ayat ini ada kata perintah yang menunjukkan kewajibannya.

Firman Allâh Ta’âlâ:

يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلا يَسْتَطِيعُونَ خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ

Artinya: “Pada hari betis disingkapkan, dan mereka dipanggil untuk bersujud, maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera. [QS. Al-Qalam : 42-43]

Ibnul Qayyim berkata: “Sisi pendalilannya adalah Allâh Ta’âlâ menghukum mereka pada hari kiamat dengan memberikan penghalang antara mereka dengan sujud ketika diperintahkan untuk sujud. Mereka diperintahkan sujud di dunia, dan enggan menerimanya. Jika sudah demikian, maka menjawab panggilan mendatangi masjid dengan menghadiri jamaah shalat, bukan sekedar melaksanakannya di rumahnya saja.”

Sabda Rasulullâh shallallâhu ’alaihi wasallam:

Artinya: “Demi dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh aku bertekad meminta dikumpulkan kayu bakar lalu dikeringkan (agar mudah dijadikan kayu bakar). Kemudian aku perintahkan shalat, lalu ada yang beradzan. Kemudian aku perintahkan seseorang untuk mengimami shalat, dan aku tidak berjamaah untuk menemui orang-orang (lelaki yang tidak berjama’ah), lalu aku bakar rumah-rumah mereka.“ [Diriwayatkan oleh Bukhori dalam Shohih-nya kitab Al-Adzaan, bab Wujubu Shalatil Jama’ah no. 608, dan Muslim dalam Shohih-nya kitab Al-Masaajid wa Mawaadhi’ Shalat, bab Fadhlu Shalatil Jamaah wa Bayaani Attasydiid fit Takhalluf ‘Anha no. 1041]

Ibnu Hajar dalam menafsirkan hadits ini menyatakan: “Adapun hadits bab (hadits di atas), maka zhahir-nya menunjukkan shalat jamaah fardhu ‘ain, karena seandainya hanya sunnah, tentu tidak mengancam peninggalnya dengan pembakaran tersebut. Juga tidak mungkin terjadi pada peninggal fardhu kifayah, seperti pensyariatan memerangi orang-orang yang meninggalkan fardhu kifayah.” [Fathul Baari 2/125]

Demikian juga Ibnu Daqiqil ’Ied menyatakan: “Ulama yang berpendapat bahwa shalat jamah hukumnya fardhu ‘ain berhujah dengan hadits ini, karena jika dikatakan fardhu kifayah, kewajiban itu dilaksanakan oleh Rasulullâh dan orang yang bersamanya, dan jika dikatakan sunnah, tentunya tidaklah dibunuh peninggal sunnah. Dengan demikian jelaslah, shalat jamaah hukumnya fardhu ‘ain.” [Ihkamul Ahkaam 1/124]

Sabda Rasulullâh shallallâhu ’alaihi wasallam:

Artinya: Seorang buta mendatangi Nabi shallallâhu ’alaihi wasallam, dan berkata, “Wahai Rasulullâh, aku tidak mempunyai seorang yang menuntunku ke masjid.” Lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullâh shallallâhu ’alaihi wasallam sehingga boleh shalat dirumah. Lalu beliau shallallâhu ’alaihi wasallam memberikan keringanan kepadanya. Ketika ia meninggalkan Nabi, langsung Rasulullâh memanggilnya dan bertanya, “Apakah anda mendengar panggilan adzan shalat? Dia menjawab, “Ya.” Lalu beliau berkata, “Penuhilah!” [Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya kitab Al-Masaajid wa Mawaadhi’ Shalat, bab Yajibu Ityanul Masjid ‘ala Man Sami’a Annida’ no. 1044]

Ibnu Qudamah berkata setelah menyampaikan hujahnya dengan hadits ini: “Jika orang buta yang tidak memiliki orang yang mengantarnya tidak diberi keringanan, maka selainnya lebih lagi.” [Al Mughni 3/6]

Sabda Rasulullâh shallallâhu ’alaihi wasallam:

Artinya: “Tidaklah ada tiga orang dalam satu perkampungan atau pedalaman tidak ditegakkan pada mereka shalat kecuali setan akan menguasainya. Berjamaahlah kalian, karena srigala hanya memangsa kambing yang sendirian.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya, kitab Ash-Shalat, bab At-Tasydiid fi Tarkil Jamaah no.460, An-Nasa’i dalam Sunan-nya, kitab Al-Imaamah, bab At-Tasydiid fi Tarkil Jama’ah no.738, dan Ahmad dalam Musnad-nya no. 26242]

Nash-nash ini menunjukkan kewajiban shalat berjama’ah. Pendapat ini dirajihkan oleh Lajnah Daimah lil Buhuts wal Ifta’ (Komite Tetap untuk Riset dan Fatwa, Saudi Arabia) [Fatawa Lajnah Daimah 7/283]

dan Syaikh Prof. Dr. Sholeh bin Ghanim As-Sadlaan dalam kitabnya, Shalatul Jama’ah [Shalatul Jama’ah, hal. 72]

Sumber : https://cloudsoftwareprogram.org/

About the author