Guru SD Bergelar Master dan Doktor

Guru SD Bergelar Master dan Doktor

Guru SD Bergelar Master dan Doktor

Indonesia Community Center, Sekolah Rintisan Anak-Anak TKI di Johor Bahru

 

Belum semua anak tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia mendapat pendidikan yang layak. Bahkan, beberapa tidak bisa bersekolah. Karena itu, Konjen RI di Johor Bahru berinisiatif mendirikan sekolah rintisan agar anak-anak TKI punya masa depan.

Laporan Sholahuddin, Johor Bahru, Malaysia

——-

BEL berbunyi nyaring di Indonesia Community Center (ICC), sekolah rintisan di Johor Bahru,

pagi itu. Anak-anak yang berseragam SD dan SMP berlarian masuk ke ruang kelas. Namun, tidak semua anak itu mau masuk kelas. Beberapa di antara mereka masih tetap asyik bermain kejar-kejaran di halaman sekolah.

’’Ayo, masuk semua. Fajar, kamu kan ketua kelas, semestinya bisa kasih contoh teman-temanmu untuk masuk. Itu gunanya kamu dipilih menjadi ketua kelas,’’ ujar seorang guru kepada Fajar dan teman-temannya yang masih berada di luar kelas. Mendapat perintah itu, Fajar cs buru-buru berlarian masuk kelas.

Sekolah tempat menimba ilmu bagi anak-anak TKI tersebut sangat sederhana. Dinding kelasnya dibangun dari kontainer bekas. Namun, ruangannya ber-AC sehingga tidak panas. Ukuran ruang kelas juga sempit. Hanya sekitar 4 x 6 meter. Dengan ruangan seluas itu, kelas tersebut hanya mampu menampung murid tidak lebih dari sepuluh anak. Itu pun berimpitan. Bahkan, jarak papan tulis dengan bangku siswa terdepan tidak sampai semeter.

Sekolah rintisan tersebut berada satu kompleks dengan kantor Konsulat Jenderal (Konjen) RI di Johor Bahru.

Tepatnya di No 46 Jalan Taat, 80100. Saat ini, sudah ada enam ruang kelas. Sebagian besar untuk siswa SD. Sebagian lagi untuk pelajar kejar paket SMP. Uniknya, ruang-ruang kelas itu diberi nama para mantan menteri pendidikan Indonesia. Mulai Ki Hadjar Dewantara hingga Abdul Malik Fadjar. Nama itu tertulis di pintu masuk kelas.

’’Nanti ada juga nama Pak Anies Baswedan kalau ruang kelasnya bertambah. Insya Allah terus kami bangun,’’ kata Taufiqur Rijal, konsul jenderal RI di Johor Bahru, saat mendampingi rombongan Dompet Dhuafa Indonesia yang dipimpin Presdir Ahmad Juwaini ketika mengunjungi sekolah rintisan tersebut awal Maret silam.

Menurut Rijal, sebelum sekolah itu dibangun, anak-anak TKI harus belajar di ruangan seadanya. Mereka belajar di ruang aula kantor konjen yang disekat-sekat dengan papan. Karena itu, proses belajar-mengajar tidak efektif. Jumlah murid pun belum banyak. Baru setelah ruang-ruang kelas dari kontainer itu didirikan, jumlah anak yang bisa mengenyam pendidikan di ICC mencapai 100 orang.

 

Baca Juga :

About the author